Featured

First blog post

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Advertisements

Empat Elemen Lima Sempurna

“Ketuhanan yang Maha Esa” bunyi dari sila pertama yang menggambarkan bahwa Indonesia negara yang mengutamakan unsur keagamaan dan memiliki beraneka ragam agama. Salah satunya Islam, merupakan agama terbesar yang dianut penduduk Indonesia. Agama yang menjadikan salah satu ibadah rutin sebagai tiang utama. Tiang terbesar dalam sebuah bangunan. Tempat bersandar ibadah-ibadah lain agar dapat diterima pahalanya oleh Allah swt.

Kegiatan rutin yang dilaksanakan lima kali sehari. Pekerjaan yang apabila dikerjakan semakin mengokohkan bangunan agama dalam diri. Kewajiban seluruh umat yang apabila ditinggalkan menyebabkan kesengsaraan dunia akhirat. Aktivitas rutin yang menenangkan batin. Kunci utama untuk membuka pintu surga. Semua terangkum dalam sebuah ibadah yang dinamakan salat.

Kita tentu pernah mendengar kata-kata “Api, udara, air, dan tanah. Dahulu kala, empat negara hidup dengan damai. Kemudian semuanya berubah ketika Negara Api menyerang”. Kata-kata  ini sering kali terdengar ketika menonton sebuah film kartun buatan Amerika yaitu Avatar The Last Air Bender. Film tersebut menceritakan, seseorang yang bisa mengendalikan empat elemen di dunia ini akan dapat mendamaikan dan menyelamatkan dunia dari berbagai macam peperangan yang terjadi.

Ternyata, di dalam salat semua elemen di dunia ini, yang sering diulang dalam film Avatar The Last Air Bender termaktub di dalamnya. Sebuah video yang tersebar di media sosial menceritakan bahwa, empat elemen yang di sempurnakan oleh suatu hal, selalu termasuk di dalam gerakan-gerakan salat.

Empat elemen

Takbiratul ikhram dan itidal, posisi dalam salat yang menggambarkan bahwa kita sedang mempraktikkan unsur api. Vertikal ke atas, tegak lurus menyongsong langit. Tegas dalam mengucapkan takbir pertama “Allahu Akbar”. Berani, tidak ada keragu-raguan, serta siap menerima dan menghadapi setiap gangguan dari siapa pun dan arah mana pun.

Rukuk, posisi dalam salat yang menggambarkan kita sedang mempraktikkan unsur angin. Yang bergerak  horizontal ke depan. Angin yang bisa membawa kite berangan, berimajinasi serta berfikir betapa banyaknya nikmat Allah sehingga tak terhitung jumlahnya, tak ternilai harganya, tercurah dari langit-Nya, dan terhampar di bumi-Nya.

Nikmat yang begitu banyak ini yang apabila kita jadikan ranting-ranting pohon sebagai pena, dedaunan sebagai kertasnya, dan air lautan sebagai tintanya tidak akan cukup untuk menulis semua nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.

Sujud, posisi dalam salat yang menggambarkan kita sedang mempraktikkan unsur air. Selalu mencari tempat yang rendah, menjaga dari sifat tinggi hati. Fleksibel dengan wadah apapun. Menyesuaikan diri dengan kondisi apapun. Menjadi penolong bagi seluruh makhluk hidup yang ada di muka bumi ini

Duduk diantara dua sujud, duduk tahiat awal dan duduk tahiat akhir merupakan posisi dalam salat yang menggambarkan kita sedang mempraktikkan unsur bumi. Kukuh, kuat, dan tak tergoyahkan oleh terjangan badai sekalipun. Menjadi paku bumi agar tak terguncang. Menjadi penjaga bumi agar tak goyang.

Gerakan dari rukun salat terakhir yaitu salam. Menyebarkan rahmat ke semesta alam. Kalimat salam yang diucapkan merupakan perwujudan cinta. Selain cinta, islam memiliki sesuatu yang lebih kuat dari cinta, lebih tinggi dari cinta, lebih embut dari cinta, dan lebih hakiki dari cinta yaitu Ikhlas. Tanpa adanya ikhlas semua elemen tersebut tiada artinya, oleh karena itu film yang berjudul ada apa dengan cinta seharusnya diganti menjadi ada apa dengan ikhlas.

Api yang berani menghadapi semua masalah, ketika tidak ikhlas maka tidak akan selesai sebuah  masalah. Angin yang membantu berpikir, ketika tidak ikhlas maka tidak membuahkan hasil. Air yang menyesuaikan diri terhadap kondisi apapun, ketika tidak ikhlas semakin sulit dalam penyesuaian. Serta gunung yang menjadi paku untuk memperkuat bumi, ketika tidak ikhlas bumi akan mudah terguncang.

Begitulah kuasa Ilahi, mewajibkan seluruh hamba-Nya yang beriman untuk melaksanakan kegiatan yang sudah tentu sangat bermanfaat. Seperti perkataan orang bijak “Allah akan memberikan apa yang kamu butuhkan, bukan apa yang kamu inginkan”. Tetapi, ketika kita meninggalkan salat maka runtuhlah iman dan agama di dada kita.

Khusyuk

Dewasa ini, banyak orang mempertanyakan salat kita sah atau tidak? Salat kita diterima atau tidaknya  oleh Allah? bagaimana cara salat supaya khusyuk?. Menurut almarhum ustaz Zainudin M Z salat kita sah apabila rukun salat telah kita penuhi semua. Tetapi salat kita diterima atau  tidaknya oleh Allah swt. Tidak ada yang mengetahui kecuali Dia.

Khusyuk dapat kita artikan sebagai penuh penyerahan atau sungguh-sungguh. Khusyuk melaksanakan salat merupakan kunci utama untuk merasakan khasiat empat elemen yang termaktub di dalamnya. Tentu tidak  mudah untuk mencapai ke khususkan dalam salat, karena ada setan yang setia dan profesional untuk mengganggu kita dalam melaksanakan salat. Contoh, ketika hendak melaksanakan salat seseorang kehilangan penanya, di waktu salat setan memberi tahu orang tersebut bahwa penanya di dalam lemari.

Di zaman Rasulullah, Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu orang yang paling khusyuk dalam melaksanakan salat. Suatu haru Rasulullah menguji Ali, apabila Ali khusyuk dalam salat maka Ali berhak memilih dan memiliki salah satu serban milik Rasul. Maka salat lah Ali, selama melaksanakan salat Ali berfikir hendak memilih serban yang mana? sehingga, ketika selesai salam Rasulullah bertanya “serban yang mana hendak engkau miliki wahai Ali” secara spontan Ali menjawab “yang berwarna hijau ya Rasulullah”, Rasul tersenyum dan menjawab “salat yang engkau laksanakan tadi belum khusyuk wahai Ali”.

Dari kejadian di atas dapat dipahami bahwa ketika melaksanakan salat setan selalu mengganggu dan setan membenci orang yang khusyuk dalam melaksanakan salat. Berbagai cara dilakukan setan agar hamba yang melaksanakan salat terganggu. Ketika seseorang telah khusyuk melaksanakan salat pun setan masih dapat mengganggunya dengan cara menimbulkan rasa sombong yang ada dalam diri orang tersebut, karena telah khusyuk melaksanakan salat dari perkataan-perkataan orang ketika melihat betapa khusyuk salatnya.

Oleh karena itu, berusahalah khusyuk setiap mengerjakan salat. Karena semakin khusyuk seseorang melaksanakan salat, maka semakin terasa nikmatnya beribadah dan dengan khusyuk keempat elemen di atas akan sempurna. Dan cara yang paling sederhana untuk khusyuk dalam melaksanakan salat adalah dengan memahami atau mengetahui arti dari setiap bacaan yang kita baca dalam salat.

Menjadi Moeda yang Pancasila

Negara Indonesia adalah negara yang besar.  Sejak awal berdirinya Negara Kesatuan Repoblik Indonesia, para pendiri menyadari bahwa Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk karena terdiri atas berbagai suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa daerah, serta agama yang berbada-bada. Dengan keanekaragaman tersebut, mengharuskan setiap langkah dan kebijakan negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara diarahkan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa (Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, 2012).

Di dalam bait lagu kebangsaan Indonesia Raya, seluruh masyarakat Indonesia mengumandangkan kalimat “Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku”. Jika ditelaah, maka manakah yang dinamakan tanah airku dan tanah tumpah darahku? Menurut geopolitik, maka indonesialah  tanah air kita. Indonesia yang bulat. Bukan jawa saja, buka sumatera saja, bukan kalimantan saja, atua Ambon saja, atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan yang ditunjuk oleh Allah swt. Menjadi suatu keatuan antara dua benua dan dua samudera. Itulah tanah air dan tanah tumpah darah kita (Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bermegara, 2012 : 159).

Indonesia adalah negara yang berideologikan Pancasila. Pancasila merupakan salah satu dari empat pilar kebangsaaan yang berperan penting dalam menjaga Indonesia. Empat pilar itu diantaranya: Pancasila, UUD, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Empat piar ini merupakan tonggak terbesar yang membangun negara kita yakni Indonesia. Tanpaa adanya pilar ini Indosia tidak akan bisa berdiri kokoh seperti sekarang ketika badai globalisasi dan perubahan zaman menerjang.

Di zaman sekarang, menjadi moeda yang pancasila harus mengenal Empat Pilar Kebangsaan. Empat Pilar kebangsaan ini sangat asing didengar oleh telinga pra pemuda sekarang ini oleh karena itu peru diadakannya sosialisasi. Soosialisasi nilai-nilai Empat Piilar adalah untuk mengingatkan dan menyegarkan kembali komitmen seluruh komponen bangsa agar pelaksanaan dan penyelenggaraan kkehidupan berbangsa dan bernegara selalu menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa dalam rangka mewujudkan Negara indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

“Dari Sabang sampai meuroke berjajar pulau-pulau” Itu merupakan salah satu kalimat dari lagu kebangsaan yang ada di Indonesia. Total seluruh jumlah pulau yang ada di Indonesia adalah 17.504 pulau. Setiap pulau memiliki berbagai bahasa, suku bangsa dan adat kebiasaan. Jumlah masyarakatnya pun ratusan bahkan rbuan masyarakat yang mayoritas adalah pemuda.

Pemuda adalah harapan bangsa kedepannya, maju mundurnya suatu bangsa tergantung kepada pemudanya, hancur makmur suatu bangsa juga tergantung kepada pemudanya, bahkan hidup mati suatu negara juga tergantung kepada pemudanya. Secara tidak langsung pemuda diibaratkan sebagai tulang punggung suatu negara. Ir. Soekarrno mengatakan bahwa “pemuda adalah tulang punggungnya negara, sedangkan pemudi adalah suntingnya negara”. Pemuda juga dapat kita ibaratkan sebagai sebuah hati di dalam tubuh kita, jika  benda kecil yang bernama hati itu bagus maka baguslah seluruuh tubuh kita, begitu juga sebaliknnya jika hati itu buruk maka buruklah seluruh tubuh kita, begitu juga layaknya pemuda di dalam sebuah bangsa dan negara.

Pemuda yang diharapkan bangsa dan agama adalah pemuda yang pancasila. Kenapa demikian? Ketika pemuda telah tertanam di dalam dirinya pancasila maka secara tidak langsung ia akan menjadi pemuda yang taat kepada agamanya sesuai dengan sila pertama, akan menjadi pemuda yang peduli terhadap lingkungan dan masyarakat sesuai dengan sila kedua, akan menjadi pemuda yang bersatu dan tidak mudah pecah sesuai dengan sila ketiga, ekan menjadi pemuda yang merakyat atau selalu berbaur dengan rakyat atau masyarakat lainnya, dan akan menjadi pemuda yang adil dalam mengambil tindakan dalam keseharian sesuai dengan sila kelima.

Dalam sebuah pidatomua Ir. Soekarno mengatakan “berikan kepadaku seribu orang tua, akan kucabut semeru sampai ke akar-akarnya atau berikan sepuluh pemuda, maka  akan ku goncangkan dunia”. Pemuda dalam pidato soekarno ini bukanlah pemuda sembarang pemuda. Pemuda yang dibutuhkaan adalah pemuda yang kuat, pemuda yang mau berjuang untuk negri, pemuda yang tidak kenal lelah dan pemuda yang tertanam dirinya Pancasila.

Menjadi moeda yang pancasila merupakan hal yang tidak begitu sulit ketika adanya keinginan, tetapi akan menjadi sulit ketika tidak adanya keingin. Keinginan ini pun didasari oleh adanya kesadaran betapa pentingnya seorang pemuda di dalam sebuah negara. Timbulnya kesadaran tidaklah mudah, ketika seorang pemuda masih apatis, ketika seorang pemuda masih acuh tak acuh, tidak peduli terhadap lingkungan sekitar.

Keluarga akan menjadi pendidik utama ketika seoarang anak tumbuh menjadi pemuda yang siap mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara. Selain itu, teman-teman, lingkungan, masyarakat, dan organisasi-organisasi juga mempengaruhi seorang anak ketika hendak menjadi pemuda. Ketika semua yang mempengaruhi tersebut memberikan efek positif maka pemuda yang berlandaskan pancasila bukanlah hal yang sulit untuk dicapai.

Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Kemajemukan Bangsa Indonesia tidak hanya ditandai oleh perbadaan-perbadaan horizontal, seperti yang lazim kita jumpai pada perbedaan suku, ras, bahasa, adat-istiadat, dan agama. Namun juga  terdapat perbadaan vertikal, berupa capaiian yang diperoleh melalui prestai para pemuda. (Empat Pilar kehidupan Berbangsa dan Bernegara, 2012: 198).

Prestasi para pemuda tidak terpaku pada hal yang berbau formal, tetapi menyebar ke hal yang berbau non formal. Prestasi formal bisa didapatkan ketika pemuda berada di bangku sekolah maupun perkuliahan, sedangkan prestasi non formal bisa pemuda dapatkan ketika berinterkasi dengan masyarakat. Salah satu cara untuk menjadi mooeda yang pancasila yaitu dengan mengmbangkan prestasi yang dimiliki. Setiap pemuda memiliki kelebihan masing-masing, tergantung mau kemana ia bawa kelebihannya tersebut. Kelebihan itu merupakan hal yang harus dipertahankan, karna kelebihan itu akan segera punah ketika pemda tidak peduli akan dirinya, ke;;uarganya, serta bangsanya yang disebabkan oleh pengaruh budaya luar daan markanya narkoba.